MAJENE — Tidak beroperasinya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) milik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Aneka Usaha Kabupaten Majene menuai sorotan dari kalangan nelayan.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas melaut masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada ketersediaan bahan bakar solar untuk menjalankan perahu mereka.
Keluhan itu disampaikan sejumlah nelayan saat diwawancarai pada Minggu sore, 24 Mei 2026. Mereka mengaku kesulitan memperoleh solar sejak SPBN tersebut berhenti beroperasi dalam waktu yang cukup lama.
“Sejak SPBN milik Perumda tidak beroperasi kami jadi kesulitan dapat solar buat melaut,” ujar salah seorang nelayan.
Menurut para nelayan, keberadaan SPBN memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Selain memudahkan akses bahan bakar, SPBN juga dianggap mampu membantu nelayan memperoleh solar dengan harga yang lebih terjangkau dibanding harus membeli dari pengecer.
Akibat tidak beroperasinya SPBN, sebagian nelayan terpaksa mencari solar ke sejumlah tempat lain dengan jarak yang lebih jauh.
Kondisi itu dinilai menambah biaya operasional dan memperbesar beban para nelayan yang saat ini juga dihadapkan dengan kondisi cuaca yang tidak menentu serta hasil tangkapan yang fluktuatif.
Beberapa nelayan bahkan mengaku harus mengurangi intensitas melaut karena keterbatasan bahan bakar.
Mereka khawatir jika kondisi tersebut terus berlarut akan berdampak pada pendapatan keluarga dan roda perekonomian masyarakat pesisir di Kabupaten Majene.
“Kami minta keseriusan Perumda dalam hal beroperasinya SPBN tersebut, karena ini kebutuhan utama nelayan,” ungkap nelayan lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak Perumda Aneka Usaha segera mengambil langkah konkret agar SPBN kembali beroperasi normal.
Menurut mereka, keberlangsungan distribusi bahan bakar bagi nelayan bukan hanya menyangkut aktivitas melaut, tetapi juga berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan.
Selain itu, para nelayan juga meminta adanya transparansi terkait penyebab tidak beroperasinya SPBN tersebut. Mereka berharap ada penjelasan resmi dari pihak terkait agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Diketahui, SPBN merupakan fasilitas vital bagi nelayan tradisional karena menjadi salah satu penunjang utama aktivitas penangkapan ikan. Kehadiran SPBN diharapkan mampu memastikan distribusi solar subsidi tepat sasaran kepada nelayan yang benar-benar membutuhkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Perumda Aneka Usaha Kabupaten Majene terkait penyebab belum beroperasinya SPBN tersebut maupun langkah yang akan dilakukan untuk kembali mengaktifkan pelayanan bagi nelayan.












