Mangrove Warrior Dorong Kelompok Nelayan Samaturu Wujudkan Pelestarian Pesisir Berkelanjutan di Desa Mekkatta

Majene– Program Mangrove Warrior: Penerapan Bioteknologi Berbasis STEM melalui Pemberdayaan Kelompok Nelayan Samaturu sebagai Upaya Pelestarian Bahari Mandar” resmi dilaksanakan di Desa Mekkatta, Kabupaten Majene, dalam rentang waktu Juni hingga November 2026. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam rehabilitasi ekosistem mangrove melalui edukasi, pelatihan, penerapan teknologi, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.

Desa Mekkatta dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena merupakan kawasan pesisir yang rentan terhadap abrasi dan gelombang laut. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan, sehingga keberadaan hutan mangrove memiliki peran penting dalam melindungi garis pantai sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir.

Sebelum program dimulai, tim menemukan sejumlah kendala dalam upaya rehabilitasi mangrove. Tingkat keberhasilan penanaman masih rendah karena banyak bibit yang mati maupun hanyut terbawa ombak akibat teknik penanaman yang belum sesuai dengan karakteristik wilayah pesisir. Selain itu, kegiatan pemeliharaan, monitoring, dan pencatatan perkembangan bibit belum dilakukan secara terstruktur.

Baca Juga  Coba Dilihat, Pj Kades Banua Adolang Sangat Peduli Pada Warganya

Selama pelaksanaan program, tim melaksanakan berbagai kegiatan secara bertahap, mulai dari identifikasi permasalahan bersama masyarakat, sosialisasi, edukasi mengenai fungsi ekologis mangrove, workshop penerapan teknologi mud bag, penanaman bibit mangrove, hingga kegiatan monitoring, pemeliharaan, penyulaman, serta pembentukan kader Mangrove Warrior. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar masyarakat memiliki kemampuan untuk melanjutkan rehabilitasi mangrove secara mandiri.

Baca Juga  DPRD Sulbar Gelar RDPU Lanjutan Terkait Konflik Tambang Pasir di Gentungan

Program ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan Kelompok Nelayan Samaturu sebagai mitra utama. Masyarakat berpartisipasi aktif sejak tahap identifikasi masalah hingga pelaksanaan penanaman dan monitoring. Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana, dipadukan dengan diskusi, contoh sesuai kondisi lapangan, serta praktik langsung sehingga mudah dipahami dan diterapkan oleh masyarakat.

Baca Juga  Bamus DPRD Majene Jadwalkan Paripurna Penutupan Masa Sidang I dan Pembukaan Masa Sidang II 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *