MAJENE- Perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah oleh warga Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia berlangsung dengan penuh khidmat, termasuk di Kelurahan Tande, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene.
Pelaksanaan salat Id yang lebih awal dibandingkan sebagian umat Muslim lainnya kembali menjadi bagian dari dinamika penentuan awal Syawal yang selama ini dikenal di Indonesia. Meski demikian, suasana perayaan tetap berlangsung damai dan sarat dengan nilai kebersamaan.
Sejak pagi hari, warga Muhammadiyah di Kelurahan Tande telah memadati lokasi pelaksanaan salat Idulfitri. Dengan mengenakan pakaian terbaik, masyarakat datang bersama keluarga untuk menunaikan ibadah yang menjadi penanda berakhirnya bulan suci Ramadan.
Suasana khusyuk dan penuh rasa syukur tampak jelas sepanjang pelaksanaan ibadah.
Salah satu warga Muhammadiyah, Irna Aulia, menyampaikan bahwa pelaksanaan Idulfitri pada hari tersebut merupakan hasil dari penetapan organisasi berdasarkan metode hisab yang telah menjadi pedoman.
Ia menegaskan bahwa perbedaan waktu perayaan bukanlah hal baru dan seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.
“Hari ini kami telah melaksanakan Hari Raya Idulfitri. Perbedaan dengan warga Muslim lainnya jangan dijadikan perdebatan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, khususnya dalam konteks ibadah yang memiliki landasan metode penentuan masing-masing. Di Indonesia, perbedaan penetapan awal Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah memang kerap terjadi, namun pada dasarnya keduanya memiliki dasar ilmiah dan keagamaan yang kuat.
Tokoh masyarakat setempat juga mengimbau agar seluruh warga tetap menjaga kerukunan dan saling menghormati. Momentum Idulfitri, menurut mereka, seharusnya menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi, bukan memperuncing perbedaan.
Selain pelaksanaan salat Id, warga juga memanfaatkan hari tersebut untuk saling berkunjung dan bermaaf-maafan dengan keluarga serta tetangga. Tradisi ini menjadi bagian penting dari nilai sosial yang melekat dalam perayaan Idulfitri di Indonesia.
Dengan semangat toleransi dan saling menghargai, perbedaan waktu perayaan Idulfitri diharapkan tidak mengurangi makna utama dari hari kemenangan. Justru, keberagaman tersebut menjadi cerminan kedewasaan masyarakat dalam menjalankan keyakinan masing-masing tanpa mengabaikan harmoni sosial.
Perayaan Idulfitri di Kelurahan Tande pun berlangsung aman dan lancar, menunjukkan bahwa nilai persatuan tetap dapat dijaga di tengah perbedaan yang ada.










